Dharma Insight

Semua Tentang Dharma Universal

Seperti Apakah Pendidikan Karakter Menurut Buddhis?


Pendidikan karakter belakangan ini menjadi salah satu perhatian utama dalam penyusunan kurikulum terbaru, yaitu kurikulum 2013, yang kemungkinan besar juga masih akan dilanjutkan oleh pemerintahan baru yang akan segera dilantik.
Lalu bagaimana pendidikan karakter menurut Buddhis? Harus diakui saat ini belum ada ciri yang menonjol dari pendidikan Buddhis yang bisa menjadi acuan sebagai pendidikan karakter yang berciri Buddhis.
Itu pula yang mendorong Badan Koordinasi Pendidikan Buddhis Indonesia (BKPBI) untuk memanfaatkan momentum ini untuk menggali lebih dalam sebenarnya bagaimana pendidikan karakter menurut Buddhis.
Maka, BKPBI mengundang para ahli dan praktisi pendidikan Buddhis untuk menyampaikan pandangannya dalam seminar “Pendidikan Karakter Berbasis Nilai-nilai Buddhis” yang akan diselenggarakan pada Sabtu, 11 Oktober 2014 dari pukul 08.30 hingga 17.30 WIB. Seminar ini diadakan di Tzu Chi Center, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Dalam seminar ini BuddhaZine ikut berperan serta sebagai media partner.
Sejumlah pembicara yang akan tampil adalah Bhikkhu Jayamedho (bhikkhu Sangha Theravada Indonesia yang juga pimpinan STAB Kertarajasa Batu, Malang), Bhiksuni Zong Kai (pendiri Sekolah Dharma Suci, Jakarta), Samanera Santacitto (alumni Universitas Kelaniya, Sri Lanka), Sudhamek AWS (mantan ketua umum Majelis Buddhayana Indonesia yang juga Board of Governors Global Sevilla School), Prof. Dr. I Gede Raka (praktisi pendidikan), Idris Gautama So, Ph.D. (dekan School of Management and Business Universitas Bina Nusantara), Dr. Krishnanda W. Mukti, M.Sc. (ketua Yayasan Sekolah Tri Ratna), dan tim Tzu Chi School.
“Ini kesempatan yang baik untuk menangkap moment ini dan juga mencaritahu secara bersama-sama sejatinya apa itu yang namanya pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Buddhis,” jelas ketua BKPBI Hong Tjhin.
Lalu bagaimana pandangan Hong Tjhin sendiri tentang pendidikan karakter berbasis Buddhis? Sebagai orang yang cukup lama berkecimpung menjadi relawan Tzu Chi, ia tidak memungkiri pandangan pribadinya dipengaruhi oleh apa yang selama ini ia peroleh di Tzu Chi.
Ia menyebut, pendiri Tzu Chi, Master Cheng Yen tidak hanya mengajarkan tentang Brahma Vihara (cinta kasih, welas asih, empati, serta sumbangsih tanpa pamrih menjadi keseimbangan batin), namun juga nilai integritas, kejujuran, keyakinan, dan ketulusan.
“Dalam bentuk lain yang lebih sederhana seringkali dalam melakukan kegiatan-kegiatan kita harus selalu merasa bersyukur (gan en), saling menghormati (zun cung), dan cinta kasih (ai),” jelas Hong Tjhin.
Tzu Chi saat ini telah berkembang pesat di 54 negara di lima benua dengan jutaan relawan dan jutaan orang telah merasakan uluran cinta kasihnya. “Yang menarik buat saya, walaupun Tzu Chi telah mendunia di 54 negara tapi kita harus selalu ingat akarnya, basicnya, yaitu ‘Ge Zhi Fu Li’,” ungkap Hong Tjhin yang juga direktur DAAI TV Indonesia.
Ge Zhi’ berarti mengatasi diri sendiri, mandiri. Menurut Hong Tjhin, karakter ini sangat tepat dan relevan untuk mendukung perkembangan Indonesia agar menjadi bangsa yang mandiri dan tidak tergantung kepada negara-negara lain.
Namun sifat mandiri ini harus dimulai dari diri sendiri lebih dahulu. “Itu semua harus dimulai dari diri sendiri lebih dulu, dari keluarga, masyarakat atau organisasi, baru negara,” Hong Tjhin menekankan.
Sedangkan ‘Fu Li’ berarti kembali ke nilai-nilai luhur zaman dulu. Kalau di Indonesia apa? Hong Tjhin menyebut gotong royong, tata krama, sopan santun, dan nilai-nilai luhur yang lain perlu digali kembali dan ditumbuhkembangkan sebagai landasan pendidikan formal maupun non-formal.
Hong Tjhin sendiri belum lama terpilih sebagai ketua BKPBI yang saat ini beranggotakan 50 yayasan dan hampir 200 sekolah berlandaskan Buddhis. BKPBI dibentuk lebih dari 20 tahun lalu dengan tujuan untuk memajukan pendidikan Buddhis.
Di mata Hong Tjhin, pendidikan Buddhis saat ini terlalu melihat bentuk luarnya yang ditunjukkan dengan menyandang nama ‘Buddhis’, adanya rupang Buddha atau roda Dharma misalnya. Namun sebenarnya yang lebih penting adalah bagaimana mengimplementasikan nilai-nilai Buddhis dalam kehidupan sekolah.
“Jangan terlalu terikat pada bentuk luar, tapi ke dalam perlu diinternalisasi lebih baik sehingga lebih bisa termanifestasi dalam tindakan nyata. Spiritnya harus dimanifestasikan atau nilai diinternalisasi sehingga dalam perilakunya baik guru atau kepala sekolah maupun murid-murid dan orangtua murid bagaikan membentuk Sangha, komunitas yang saling mendukung dalam memajukan Buddha Dharma,” harap Hong Tjhin.
Dan itu terwujud dalam tindakan-tindakan nyata dimulai dari yang sederhana, misalnya menjaga kebersihan, budaya melestarikan lingkungan, dan lain-lain.
Ia juga melihat sebenarnya vihara bisa memiliki peran lebih termasuk dalam pendidikan. Menurutnya, “Vihara seharusnya bukan hanya tempat ibadah, tapi juga tempat kegiatan komunitas, dimana termasuk pendidikan usia dini, pendidikan suplementary yang ada di sekolah, kegiatan belajar Dharma dalam bentuk yang lain, belajar tentang pelestarian lingkungan, dan juga belajar untuk pengabdian lingkungan dalam skala yang cocok di mana vihara dan masyarakat itu berada.”
Ia menggarisbawahi, bangunan fisik dalam bentuk sekolah ataupun vihara memang penting, tapi yang tidak kalah penting adalah pemanfaatannya. “Jangan terpaku kepada hardware saja, tapi kepada apa program yang dilakukan, apa pelatihan yang bisa dilakukan, apa kegiatan nyata yang bisa dilakukan untuk membantu komunitas di mana sekolah atau vihara itu berada,” tutup Hong Tjhin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar